Feeds:
Posts
Comments

MATAMU, Peluru!

AKU. sepucuk senapan tanpa peluru. lubang besar bersarang di dadaku sejak engkau meledak, melesat meninggalkanku.

PERGIMU menyulut sumbu. moncong sepi menghantui hari-hariku. tak cukupkah kau berondong aku dengan diammu?

ADA yang lebih kutakuti ketimbang senapan api – sepi yang kauledakkan, padaku sunyi kaualamatkan.

ENGKAU pemburu, seribu pesonamu adalah peluru. aku tersesat di hutan ragu, diburu waktu – tolong, bunuh saja rinduku!

——-

thanks to @hotfashionholic yang sudah menembakkan sajak berikut :

“Matamu peluru. Dadaku sasaran bisu. Tutur katamu mesiu. Hatiku tumbang membiru.”

Duduk aku disudut keramaian. Ditemani senja yang kelabu. Banyak manusia bicarakan cerita. Ditengah kepulan asap tembakau.

Aku merenung ditemani segelas kopi restoran. Menikmati perih dihari. Entah berapa batang sudah tembakau yang kubakar. Sekedar ungkapan hati yang gusar.

Wanita itu kembali membumbung di angan. Kesempurnaannya yang tak terbantahkan. Oh aku kembali merindu.

Dia yang tak mungkin lagi kumiliki. Dia yang relakan hatinya diikat lelaki selain aku. Dia yang bersuka di hari minggu.

Asa kembali membara. Tapi hanya sisakan nelangsa. Berjelaga aku dalam duka. Bayangkan ia yang kupuja.

Di ujung senja ini aku tertegun. Habiskan kopi yang tersaji. Mendung penuhi cakrawala. Seakan mengerti hati luka.

Mungkin inilah sakit terbaikku. Perlahan terdengar adzan Maghrib menggema. Saatnya aku berlalu, dan tinggalkan semua kenangan itu. Hanya satu tanyaku. Sanggupkah aku melakukan itu?

Mendung Pagi

Aku pun masih terduduk di sini, menatap langit tak bertepi.
Ringkih tubuh termakan usia, meski bahagia belum menjelma.
Ratusan, ribuan, jutaan doa sudah terlontar, menggelinding saat sedang menghadapNya.
Tapi hanya ini yang kudapat, termenung di sunyi yang tak pasti.

Adakah keadilan di sini? Ataukah ada jalan yang belum kulalui?
Berceruk tanya dipalung hati, mengais sisasisa jawabNya.
Manusia memang tak sempurna, dan aku salah satunya.
Salahkah bila aku meminta? Mengharap untuk kebaikan bersama.
Bisu, sepi seakan tidak berisi.
Kembali aku bersunyi dibawah kelabu pagi.

Peluh berjelaga.
Sepi meronta.
Ruang ini hampa, tanpa sesiapa.
Hanya aku, nyawa, dan sekumpulan rindu yang luka.
Gemeletak bunyi hujan mulai menyapa.
Kian riuhkan isi kepala.
Saat ini senja.
Tapi langit tak jingga.
Sebab hujan sedang berkuasa.
Terdengar para katak berpesta.
Di sela lirih suara rinduku yang kian terluka.

Senja, cinta, kenangan lama. Semua hanya terbitkan luka. Curahkan cahaya duka di segenap daratan rasa.
Telah aku selami ribuan senja, coba raih indah cakrawala, berharap cinta tersembunyi di baliknya. Sia-sia!
Ribuan jam aku lewati berpayung senja. Lontarkan selaksa tanya padaNya. Di manakah cinta berada? Lelah aku menguntainya dari serpihan luka.

Angin senja, bola api di langit, sejumput harap manusia. Berdiam di tempat semula.
Dan aku memilih diam. Ketimbang terus berlari untuk sebuah kesia-siaan. Mungkin cinta hanya ada di puncak pegunungan. Atau dasar lautan.
Langkah waktu pun dihentikan air mata. Sejenak terdiam di sana. Beri waktu bagi anak manusia tuk berpikir. Bahwa cinta ialah sia-sia.

Pernah aku memendam harap akan cinta dalam kendi kehidupanku. Sebelum ia tertimbun debu dan pecah hingga tak berbentuk.
Aku ingin menangis di pangku Bunda, bercerita segala di hadapan Ayah. Bertanya bagaimana mereka bisa terpeluk cinta sedang aku tidak.
Aku sering mengucap sia-sia pada perjalananku. Karena sia-sia. Ya, sia-sia!! Hanya doa yang terlepas dari sia-sia. Sebab kuasaNya.

Daundaun musim kering, ajaklah aku berdansa! Kita kan menari di bawah permadani cinta. Lupakan cinta, lupakan kenangan lama. Aku terluka!!
Angin semilir di beranda, nyanyikanlah sebuah lagu tanpa cinta. Lalu kecup aku, hisap kesedihan dalam mataku. Lekas!! Aku lelah menahannya.

Pagi yang sunyi di hari yang sepi…
Degup jantung, dengung lalat juga gumam lirih selokan keruh
Menelan timbunan sampah, tanpa sanggup mengeluh
Langit yang sepi, menyembunyikan matahari
Di kepala kita, mendung menggayuti cemas mimpi-mimpi
Menatap putaran jarum detik arloji
Merenungi kesia-siaan hari
Memeluk gelisah, berkelahi dengan amarah
Hidup, ternyata harus pandai memilah janji
Hidup, hanya untuk mereka yang sudah khatam menjilat ludah sendiri
Ah, ternyata -mungkin- ada yang luput dahulu kita pelajari

Pagi yang sunyi di hari yang sepi…
Terpejam membayangkan kerlip kunang-kunang
Mengenang laron semalam yang selalu kembali ke pijar api, menjemput mati
Menatap sisa purnama yang mengigil tanpa teman
Memaki matahari yang terlalu cepat datang
Seruput kopi yang terasa getir
Dan sepi, perlahan merobek-robek akal pikir

Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa sadar, aku menggumamkan sajak-sajak cinta
Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa suara, aku meneriakkan Indonesia Raya…

Kelokan-kelokan sepanjang perjalanan pulang, memaksa menggali-gali kenang.
Tentang berapa banyak nama sahabat yang masih kita ingat

Bunga-bunga terompet yang memagari rumah-rumah kayu, menebarkan aroma yang pernah kita kenali teramat akrab.
Rindu, perlahan sembab..

Kita yang dibesarkan aroma tanah dan humus basah, disihir bising kota, mendadak lupa sejarah.
Tentang pekarangan tempat bermain kelereng dan berlari menarik layangan.

Humut kelapa yang kita sesap bersama.
Juga batang bambu dan kertas basah yang dijadikan peluru.
Menahan takut, kita berlarian sembunyi di bayangan pinus.

Melarikan duka pada pekat asap rokok di temaram lampu disko, kita menangisi riam sungai dan kicauan prenjak di dedahan pohon nangka, yang tak ditemukan di trotoar jalan..
Gelak tawa kemarin, hanyalah bayangan suram yang dipantulkan botol-botol minuman.

Kampung halaman, kawan, adalah pekarangan tanah dan pagar rumah bunga-bunga terompet, tempat rindu senantiasa disiram.

Kampung halaman, kawan, adalah tempat usia yang berderet-deret berbanjar… disemayamkan.