Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘@kumabal’s poem’ Category

dua sisi kotak kaca

Ruang nya terang benderang
seharusnya hangat musim panas

Tempat nya di kelilingi dinding kaca
seharusnya tak sedingin musim salju

Di balik dinding kaca tampak
matahari kuning,
awan putih,
langit biru
Manusia tersenyum menyebut nya Cerah..
Hari baik

Di dalam kotak kaca tengadah ke atas;
tak ada matahari,
awan kelabu,
langit mendung
Manusia merengut menyebut nya Badai.. ?!

Gadis kecil berkepang dua,
memeluk erat boneka malaikat bersayap satu-nya di dada

Gadis kecil berkepang dua,
duduk di pojok meraung sejadi-jadinya

sayangnya ia tak tau
itu sia-sia

Suaranya terbungkam,
terperangkap dalam kotak kaca

dari luar kotak kaca
sepasang manusia dewasa bergumam dalam sedu sedan tangis
“Gadis kecil ku.. my angel..maaf.. itu utk kebaikan mu..”
“sakit ini.. utk menyembuhkan sakit mu..”

Advertisements

Read Full Post »

3 x 3 Menit

Ada wanita setengah baya
menatap kaku ke lampu lalu lintas…
Bergeming

Hijau
Ia senyum geli dan polos
3 menit pertama
Kayaknya dia ingat hal lucu
Aku ingat kebanggaan mencuri simpatik dari…pria sebaya tentunya

Kuning
Ia merengut kesal dan serius
3 menit kedua
Kayaknya sopir-sopir angkot pada heran
Aku ingat kejengkelan mengamati perubahan sikap dari… pria itu

Merah
Ia tertawa Ngakak, besar dan lantang
3 menit ketiga
teriak “Sebuah Cinta Lokasi ! Hanya itu
Kayaknya masyarakat kegelian berbisik: kurang waras rupanya

Wanita setengah baya beranjak dari persimpangan itu.

Lampu lalu lintas
sebentar Hijau lalu Merah.
Merah lalu Hijau

Tak ada yang sangka JuStru itulah yang membuatnya waras

Aku ingat sudah saatnya waras lagi.

Sungguh, baru saja Ia waras lagi.
3X3 menit di pertigaan lampu lalu lintas satu kota

Read Full Post »

Detik bergerak lambat pada dua hati mencinta senja
Ada lariklarik kata yang bertahta…

@kumabal:
Rindu tertanggal di telpon yang tak kau angkat semalam.
Aku seragam kesepian tak berbalas kata,
terluka oleh tak acuh gerikmu.

@nugrahaarief:
Membuncah.
Masihkah luka sepi itu membekas?
Intip jendelamu, sedari subuh ku kirim sepasang merpati
maaf, menunggu senyummu.

@kumabal:
Pesan diterima.
Lalu, adakah senyummu di situ?
Itu penanda warna langitku hari ini.
Jangan kelabu lagi.
Ku tunggu di senja.

@nugrahaarief:
Di hati ku ukir serekah senyum surga.
Ini untukmu.
Berbaris rapi simponi cinta melumat kelabu.
Di senja yg kita kenal,
rasa kembali terajut.

@kumabal:
Aduhai, si lega menyusup haru.
Hei lihat!
Arakan awan putih ikut menggodaku!
Ada siluet senyummu merekah disana.
Menaklukkan ragu.

Tertahan.
Kata tercekat di udara, bergeming di ruang hampa.
Melirik senja yang telah terbakar. Hampir sempurna. 

@nugrahaarief:
Adakah kau di pokok eboni senja ini?
Gemerisik daunnya seperti
suaramu memanggil lembut

Di sini kumenanti bertopang rindu,
bersandar harap.
Setiaku sampai eboni mati saat senja tak lagi ada.
Sudikah kau singgah senja ini?

Senja. Tempat orang mencinta.
Senja. Di sana ada aku. Datanglah.

@kumabal:
Di sini ku bergegas lekas,
berlari menujumu.
Gemerisik dedaunan eboni
menghantarkan dengung rindumu.
Aah, tunggu aku senja!

@nugrahaarief:
Pelankan langkahmu.
Sungguh desir desir ini merayap menjalari hati saat aku menantimu.
Aku ingin menikmati itu.
Ada cerita yg kusiapkan.

@kumabal:
Pelankan langkah?
Ssstt, ratu peri eboni menjemput.
Sudah lama para kunang eboni merindu,
nantikan kita nikmati senja di situ.

@nugrahaarief:
Adakah senja penuh senyum padamu?
Peri itu doaku yang terejawantah,
sayapnya rinduku,
tongkatnya seindah pelangi habis turun hujan.

Tak perlu lagi kata.
Kita. Tak tergambarkan kata. 

@kumabal:
Memejam mata;
masih tersisa senyum senja dan pelangi.
Lalu erat-erat
aku memeluk perieboni.

Bersama senja yang tenggelam.
Berdua kita. Di sini.

Read Full Post »

Aku, kamu; dua insan menulis cinta
dengan tanda baca.
Mengukir aksara CINTA
sebelum titik mengakhirinya.

Jika aku koma,
kau pasti menjadi titik.
Bersama kita buat kata melompat,
tersungkur, menangis, lalu terbahak.
Kita abadi di noktah terakhir.

Jika kau titik, pasti aku koma.
Berdua kita titik koma,
yang menawar penghabisan menjadi jeda.
Dan cerita tak menemu
ujung yang berhenti.

Bila kau tanya, sedang aku seru.
Kita damai dalam jawab.
Menyihir gemuruh, gempita,
gemerlap dengan kata.

Maka aku pun menjadi tanda seru.
Penegas yang pasti,
penanda bahagia tanpa batas.
Bersama, kita buat kisah yang
menarik sampai mati.

Maka Engkau pun menjadi tanya.
Menjadi pengingat rasa luka,
saat cinta terlalu berkuasa,
membuai jiwa dengan suka.

Maka kita,
adalah sepasang tanda kutip.
Mengawali kisah di cinta dan
mengutipnya dengan helaihelai
kenangan yang mengabadi.
Di sini, rumah kita.

Aku dan Engkau,
lalu serupa sepasang manusia
di depan titik dua: KITA.
Tanpa tanda,
bukankah cinta telah bertandang
di titik, koma, seru
yang bertanya tentang katakata?
Lalu menyihir keindahan:
KITA.

Jadi,
bolehkah aku tanpa tanda?
Aku hanya bisa berkata, lalu
sempurnakan aku dengan
tandatandamu.
Bukankah
kau penyempurna?

~kolaborasi bersama @eswlie dan @menghujam~

Read Full Post »

Cukup ?!

Takaran Cukup.
Antrian gumam-gumaman khusyuk itu panjang.
Rapi terangkat naik-naik ke puncak langit tinggi.
Puluhan hari dengan gumaman yang sama.
Satu hari gumam itu menjelma kejadian, pengabulan.
Syukur membuncah
Debaran tak terbendung
Sukacita.

Tapi satu kejadian harus berakhir,
Jika tanpa akhir itu bukan kejadian, itu kekekalan
Dan dalam kedagingan ini satu kejadian harus usai.

Gumam-gumam yang sama terulang kembali
Dengan lebih khusyuk setengah memaksa, memohon, membujuk..
Anak ku…
Kenapa gumam yang sama lagi ?
Sekali kau pinta
Tlah terkabul

Cukup sekali katamu dulu mu

Sekali lagi pinta mu kini


Lagi-lagi tak tahu takaran cukup ?

Cukupkanlah

Read Full Post »

Ada 3 hal yg aneh dalam fenomena manusia
Bahkan 4 hal mutakhir fenomena dialami kaum Hawa:

Harumnya kuntum-kuntum bunga harap
Gadis-gadis yang jatuh cinta

Tingginya kepakan sayap lalang buana
Gadis-gadis yang dihujani cinta

Luasnya tanah gersang dan tandus yang dibiarkan
Gadis-gadis yang putus cinta; dan

Gigihnya kayuhan sampan
gadis-gadis yang mencari pelabuhan cinta sejati
Dimana kapalnya akan buang sauh

Coretan tanya masa SMU, dengan seragam putih abu-abu ku

Read Full Post »

Menulis membebaskan kata !?
Maka mari bebaskan kata-kata dalam kepala dan hati.
Ya, biarkan mereka menari, melompat, menyanyi riang tanpa batas.
Bebas.

Read Full Post »