Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘miqueridasanta’

Dalam pasi bulan musim semi
Menggulita hati tanpa pelita
Riuh rumpun-rumpun mawar mengonak dalam sunyi Luka hati
Saksikanlah. Rasa-rasa yang meliar, menggurita dalam malam-malam sepi
Seperti senandung seruling kesepian
Serenade derita Dari bibir yang jauh Dari mulia
Harapan-harapan menyepi setiap malam. Kekalahan mengendap dalam mimpi lalu menjelma hujan amarah putus Asa esok pagi. Akankah?
Dan engkau, Guntur yang teredam dalam diam.
Pasi sepucat bulan musim semi
Kau Pulas duka dalam hatiku yang tak kunjung mengusirmu dari mataku
Kau terbitkan gerimis tanpa jeda

Advertisements

Read Full Post »

Andai jarak ini tiada
Tentunya aku di pelukmu, bermanja
Mencium bibirmu tanpa jeda

Andai samudera ini tiada
Kau pasti datang membawakan bunga
Dan aku, tak sabar menantimu ditepi jendela

Andai batas ini tiada
Kita tak perlu berahasia
Dan kisah cinta kita, tak sebatas goresan pena

Read Full Post »

There’s you on my dashboard.
Crossing the road, waving from the bus stop.
Smiling face of the next driver

Seems like raining You last night. And you’re still linger on the grass.
Nothing You-er than the smell of the air today

Sun shines, slowly warm the earth
As slowly as your memories slip from my chest, gliding
Reminiscent of the kisses that long gone but never forgotten

I can still feel the rain long after it’s gone
The moist, the subtle sweetness of the wet soil and grasses
As I feel your kisses
Long, passionate and tender
And nothing You-er than this feelings

Read Full Post »

I’ve tried to put this feeling into words, but fail miserably.

The feeling of being both scared, of having butterflies and a sense of calm

The feeling that growing beyond the realm of my heart.

It seems that you have become the fiber of my soul, the very reason for my existence

I have no other words to describe the way you make me feel.

No words, no actions could even come close

I believe that “I more than love you”.

I Hope our love was a strong love, surviving everything, even death …. .

Read Full Post »

Bangun pagi Dan menemukan kata-kata cinta darimu.

Ah! Untuk apa? Bukankah rasa itu telah usai bagimu…

Masih kuingat bait-bait itu.
Betapa Merdunya mengoyak hatiku. Merembesi jiwaku.

Setahun, seratus tahunpun aku Akan selalu mengingatnya.
Tergurat halus di seluruh hati Dan jantungku.
Bagaimana aku bisa lupa?

Seperti air laut yang tersesat di gunung.
Perlahan menemukan jalannya ke muara lalu merentas.

Begitupun cintaku.
Menemukan jalan menemuimu lewat angin selatan, senja Dan gerimis yang puitis membasahi wajahku

Aku tak butuh kata-kata itu.
Simpanlah kembali.
Cukuplah kenangan kulipat Dan kusorok dalam-dalam di dadaku

Bahkan kau mengosongkan ruang di antara aku dan kamu.
Ruang yang seharusnya kau isi dengan cinta.

Apakah artiku buatmu? Beratus Kali kutanya. Tak juga Ada jawabanmu

Adakah jarak merentang menelan kata-kata.
Apa yang seharusnya terucap terkelu Dan apa yang seharusnya tergambar menjadi hilang warna

Aku lelah menerjemahkan.
Menerka-nerka setiap kata.
Aku bosan memahamimu.
Kumohon pahami aku Kali ini

Tak perlu mengerutkan kening untukku,sayang.
Semua kata-kata cintaku tertuju padamu.

Simpan kompasmu.
Tak perlu kau terka kemana arah tujuku.
Semua menujumu.
Menunjuk langsung ke pelukanmu

Setahun berselang apa yang hilang? Cintamu? Cintaku?
Yang jelas kita tak lagi saling memiliki

Apakah arti perayaan ini?
Adakah arti Dari persulangan ini. Kurasa cinta sudah mati

Gelas-gelas anggur mula kering Dan mendebu.
Lama tak kau tuang anggur kedalamnya.
Aku kering dahagakan engkau

Lalu Kau angkat gelas, bersulang. Seperti kata-kata cinta yang Kau tulis sembari mendustakannya.
Semu

Seperti semunya jarak diantara kalimat “Aku………Engkau” dalam baitmu.

Read Full Post »

Biar kubalas kecupan jauhmu saat kau terjaga nanti

Biar kusesap kecupanmu semalam. Mungkin Ada ketulusan kau sematkan disana

Jarak merentang kadang membimbangkan.
Selalu Ada yang hilang tercecer di perjalanan

Seperti kepercayaan Dan segala yang berpusar di dalamnya

Saat menatap matamu pun sulit. Sedang hanya disana aku bisa mengail kebenaran Dan menerjemahkan kata-katamu

Dari mana harus kupunguti arti cinta yang tercecer antara benua ini?

Sering Kurasakan detakmu melambat dalam sunyi malam hari.
Sendirikah engkau disana?

Aku ingin menatapmu dalam tidur Dan menguraikan jalinan rambutmu dengan jemariku

Kurasa kata cinta tak perlu terucap lagi. Aku menyatakannya dalam setiap gerik

Siapa menyangka kini dinding hatimu penuh kutempeli kenangan pada akhirnya

Adakah tergugur sedikit setiap kau membanting pintu karena marah?

Dingin ini merapatkan. Aku merapatimu dalam setiap doaku

Kutitipkan Salam kepada bulan yang kurasa kini sudah sampai di tempatmu Dan mulai mengambil tempat matahari yang meredup senja

Lalu benderang secerah harapanku untuk bertemu pada suatu saat yang dinanti

Read Full Post »

Melbourne gerimis puitis.
Seperti airmata yang menitik lirih

Kota Ini seperti gadis cantik yang kesepian.
Di tengah gelak terselip seutas sepi

Gedung-gedung menjulang harapan.
Tanah lapang mendulang kenangan. Semua kuberi Nama kamu

Jalanan merentas jauh Dan panjang.
Patok-patok penanda kerinduanku.
Kapan kamu sampai?

Lampu mengerlip sejurus setelah senja.
Seperti kerdipan Asa hatiku Akan kehadiranmu.

Semu.
Esok hari baru.
Kamu masih jauh
Sepuitis apapun gerimis Dan tangis
Masih jauh untuk membawamu kembali

Read Full Post »

Older Posts »