Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘@nugrahaarief’s poem’ Category

Kupelajari isyarat langit yang
semakin menghitam-membiru
Rembulan menyendiri
ditinggalkan sepi yang sunyi

: Apakah tadi malam
tangis tumpah di dadamu?

Telah kususuri jalan berkerikil
dari halaman rumahmu sampai sumur kering
tak lagi dipakai mandi
Orang tak lagi menyapa dengan senyum
Bibir mereka kebas dari derita
tak kunjung lepas

: Batu mana membuatmu terjatuh
dengan luka tak kunjung kering?

Aku gagal bermimpi dan mencatat
sebuah ingatan
Bola mata bulatmu
atau urai bulu-bulu halus kudukmu

: Di mana kau sembunyikan
lagu riang yang membuatmu menari
dalam hujan?

Bahuku tak sekuat jaring laba-laba
Dadaku hanya sebidang rindu memuja kepalamu
Aku tak mau
mengabadikan mendung di binar matamu
Cukuplah hanya aku

: Izinkan aku meminjam gelisahmu
malam ini saja

Advertisements

Read Full Post »

Dua Sajadah

AKU masih ingat
kisah cinta rajutan benang-benang makna
pada kain yang telah kumal
atau tangisan di sudut muka yang mengekal

Ini bukan lagi soal
siapa yang paling siapa
bukan juga tentang
mengapa dan kita apa

Tak perlu takut
bukankah ia telah ada di aliran darah kita
bagian yang mustahil dipisahkan
seperti malam dan gulita

Aku tak peduli
jika bukan ke kiblat kita mengarah
mesjid-mesjid yang berkenang pada
sejarah manis dari guru-guru kita
walau nyata tak pernah mau bersahabat

Bukan, bukan itu

Ini cinta yang ingin kita gelar
jauh ke depan altar paling mulia
menggambar senyum bidadari kecil
teman manja saat mesra atau pahit yang getir

Bergeserlah sedikit ke belakangku
sedepa dari ujung telapak kakiku
jangan gugat aku dengan ketidaksetaraan
ini bukan lagi soal ketidakseimbangan

Bertahanlah sampai lafadzku tak lagi jelas dan berdiri tak mampu kutunaikan

Aku melamarmu
lewat dua sajadah
satu milikku
satu di belakang punyamu

Read Full Post »

Inikah malam yang pedih.
Bintang mendelik curiga dan hujan semakin menggarami luka.
Bulan ikut mengerami kebencian.

Sebuah tanya terlepas tanpa meminta dijawab
seperti membiarkan angin bermain dengan matanya sendiri.
Antara mengecup daun atau merayu rumput.

Kita merayakan cinta yang digauli banyak orang.
Menepuk bibir pria tersesat dengan bibir,
menadah tangan bersama pengemis bau amis.

Coba kaulihat
Buku-buku dahan tak lagi nampak.
Tak jelas, mana yang tumbuh lebih dulu atau mati lebih awal.
Kita abai pada tempayan air mata
yang telah tumpah di beranda rumah.
Menadahnya dangan apa yang kita punya.
Dengan telapak tangan,
di guratannya mengalir enggan,
tak bisa diteruskan oleh perintah mata.

Bukankah telah kukatakan padamu
jika anak panah telah lepas dari busur,
hati yang paling raja tak mampu menariknya kembali.

Ini malam paling pedih.
Aku tak selesai bersedih.
Ini cinta yang tak pernah didih.

Read Full Post »

Tubuhnya,
sekekaran semu yang selalu ia banggakan pada anak-anaknya
batang kelapa yang menjulang
tak gopoh dihempas angin yang melaut
anak-istrinya hanya perlu tahu itu.

Kantung matanya,
binar yang semakin meredup
cahaya lampu pijar membiaskannya
di ruang berbilik
rapuh disepuh waktu
berisi cerita sejuta pandang
mengawang mencari sebakul nasi matang.

Kerutan jidatnya,
selalu terlihat jelas jika ditanya anak-anaknya
apa yang akan dimakan esok hari
jangan kau tanya ada apa di balik
tempurung kepala
ada rencana ini-itu, itu-ini.

Basah ketiaknya,
yang tak pernah dicukur rapi
semenjak kelahiran anak keempatnya
semacam pelindung iritasi
jika kedua lengannya beradu lebih cepat dari biasanya.

Uban rambutnya,
jika ditanya anaknya apa yang membuatnya memutih
“suatu hari jika aku telah tiada,
kau akan mengerti kenapa ini terjadi”,
itu jawabnya.

Bibirnya yang menghitam,
bekas mencumbu hidup yang kelam
mencium aspal jalanan di pekat malam
di sebatang rokok yang hampir habis
tersusun rapi cerita tentang cinta yang bekerja.

*untuk Ayah atau apapun sebutanmu*

Read Full Post »

DAN kita kembali terdiam.
Setelah doa panjang tiada henti.
dan kabut yang perlahan menipis.

Tangis seakan tak pernah diingat.
sedang haru meluruh entah kemana.
Di mesjid yang awalnya ramai,
sajadah telah terlipat dengan rapi
Tiap kita melonggarkan shaf,
lalu, membebal tanpa kesal.
Corong masjid jadi bebunyian paling menjemukan.

Pelataran telah bersih.
Anehnya, kita kembali membuang
kotor dan melumpuri dinding-dinding pengharapan.

Tak bosan kita tumpahkan darah lagi.
Tak pernah cukup bekas luka
yang bahkan belum kering.
Menguliti daging putih tanpa darah,
membanggai luka-luka di atas senyum.

Entah, pertanyaan macam apa yang sanggup menahan kita kembali.
Atau mungkin kita terlampau rindu
berada di sisi kelam,
Menjadi alasan membunuh tanpa dikenali.

Kutanyakan kembali padamu, Kawan.
Apakah kita tak pernah cukup belajar?

Read Full Post »

KUPIJAKKAN kakiku di atas sendu luka dan pilu,
agar kau tahu aku mencintaimu.

Letakkan semua di bayang yang melayang.
Biarkan terpa angin memberinya tempat, tertiup ke sana,
ke misteri tuhan paling paripurna.

AKU misterimu, tersimpan aman di tangan sang maha kuasa.
Mampukah kau bawa aku,
keluar dari keindahan ini?

Aku merayakan misteri. Membuka tanya, mencari jawab perlahan,
tapi cemas.
Itukah kamu?
Karena indah tak mungkin lepas dari keindahan.

TANYA pada hatimu, kau pasti tahu jawabnya.
Perlahan tak usah terburu nafsu.
Keindahan tak kurang dari sebuah kata yang indah.

Hatiku,
senandung bunyi tanpa irama. Begitulah ia tanpamu.
Dan indah?
Kukenali di Beranda hatimu tempat aku bernyanyi tanpa malu.

KUDENGAR nyanyian merdumu yang kadang sendu,
kusimpan beberapa lirik lagu.
Ia mati jika tanpamu.

Mari nyanyikan lagu yang kita telah pahami, tanpa kata.
Biar bebunyian yang memandu, dan
kita kembali saling merindu.

* sebuah catatan malam dengan @LoLyPoP64 *

Read Full Post »

dengan apa?

KITA bercerita tentang rumah tanpa beranda, tentang lilin yang tak lagi mampu menyala. Lalu, bertanya tentang hal nyata.

KITA,
biduk yang berbeda di telaga maha luas.
Dengan apa kau mengenaliku?

KITA,
sebuah sajak usang yang tak laku, ditinggalkan penulis yang menyerah.
Dengan apa kau memahamiku?

KITA,
buku lama yang berdebu, terobek, terpajang di etalase toko yang tak lagi dikunjungi.
Dengan apa kau menemukanku?

KITA,
lagu yang tak berirama, berlirik sedih, sulit dimengerti.
Dengan apa kau menyanyikanku?

KITA,
kopi pekat yang kehilangan panas, bersama hujan menyetubuhi gigil.
Dengan apa kau menikmatiku?

KITA,
tanda tanya dengan segala kemungkinan,
tak ada jawaban pasti, bukan tentang benar-salah.
Dengan apa kau menjawabku?

DENGAN APA?
Aku pun bertanya padamu.

Read Full Post »

Older Posts »