Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘@rifzahra’s poem’ Category

Menggenang *)

Ada air mata, menggenang di saku kemejamu
Setelah perjalanan panjang berliku
Yang tak pernah kau sesali
Walau sekali

Pernah kumengerjap manja,
lalu bertanya, “Apakah itu air mata, Ayah?”
Kau tersenyum, dan menjawab,
“Bukan, Sayang. Ini hanya sisa hujan,
yang Tuhan titipkan, semalaman.”

Lama baru kusadari,
kau hanya coba bentangkan pelangi
Di rumah kami

Tahukah engkau, Matahari, bahwa aku mencintaimu?

*) terinspirasi dari tulisan adik di http://akkaoffee.tumblr.com/post/1658685794/menggenang dengan judul yang sama

Advertisements

Read Full Post »

: @hotfashionholic

Apakah pagi Melbourne serupa pagi-nya Bandung, Teteh?
Merindu rintik embun, menjelajah dedaun.

Kulihat jemarimu tak henti menyusuri,
berlari di depan layar.
Sambil memasak kata,
lalu menghidangkan cerita,
dengan aroma istimewa.

Ya, pagi mungkin tak pernah sama, Teteh.
Tapi racikanmu selalu sama,
samasama lezat.
Di depan layar, kau jadi koki paling hebat.

Dari bit ke bit di layarmu,
ada resep rahasia, bagi para pecinta kata.

Read Full Post »

Ode Ulat Kecil

Aku pernah berpikir
Aku ingin jadi kepompong saja
Menyendiri dalam sepi
Bercermin pada waktu, dan aibku

Mungkin itu lebih baik
Daripada lebah yang tak pernah hasilkan madu
Atau cecapung yang hanya hinggap di tangkai kayu

Berharap menjelma cantiknya kupu
Lalu menari bersama kepak kepikkepik mungil

Tapi yang kutak pernah tahu
Tak selamanya ulat dapat bersayap
Terkadang ia seputih lara…lalu mati begitu saja

Ah, Tuhan
Bolehkah aku meminta
Jadi ulat yang taat padaMu saja?

Read Full Post »

Kak,
sepinya malammu ini
Tak adakah yang bisa kau ajak berbagi?
Meski hanya segenggam kata, meski hanya sekecup makna

Kak,
jika tak ada,
biarlah aku di sampingmu
Ini, oleholeh perjalanan jiwaku
Sekerlip bintang
untuk kunyalakan di matamu
Dan secahya bulan sabit
untuk kuukir jadi senyummu

Ah kakak,
bersabarlah…
Biar kutemani,
sampai teman hatimu menepi…

Read Full Post »

Para penjahit kata, selalu siapkan benang paling istimewa.
Agar makna tersulam rapi, dan tersampaikan pada hati.

Para pemintal bait, tak peduli ruam-ruam pahit.
Ia jadikan itu nyawa, menulis berlembar cerita tentang luka.

Lalu, apakah penenun puisi harus tetap terjaga?
Ada masanya di mana benang dan jarum harus disiapkan.
Agar cinta, tertenun tulus untuk disampaikan.

~special for #livepoetsociety fam 🙂

Read Full Post »

Ode Pucat Hati

Ada pekat menggeliat
di pucuk-pucuk dahan pintu kamarku.
Tanpa cahaya, dari tingkap-tingkap
yang bermuram durja.
Apalah kehangatan?
Sunyi, sedan, dan pahit ruam
telah kupaksakan,
untuk kuterima sepenuhnya,
untuk kunikmati seutuhnya.

Lihatlah pagi yang menggeriap.
Mendung telah menghapusnya,
dari juta daftar periang hati.
Mungkin ia telah malu-malu sembunyi.
Tak ingin basah oleh kisah,
tak ingin kalah oleh tumpah.
Biarlah, ia nikmati periuk nasi,
sampai senjanya sendiri.

Aku tertemani bulir,
menganak kali di ujung jari.
Mengerjap, dan jatuh lagi.
Apa pasal? Tak ada.
Hanya jiwaku yang kubiarkan rapuh.
Ditampar waktu yang tak jua
menyembuhkan pilu.

Dan tiba-tiba aku cemburu,
pada tawa dan senyuman.
Ragu menyesak di penuh tanda tanya : Akankah?
Biarlah, kan kuseret sendiri
koper-koper perih ini.
Kan kuhempas,
pada jurang terdalam,
pada waktu paling malam,
dan pada rindu paling kelam.

Read Full Post »

Apa arti #pagi bagimu?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa belaian lembut para peri embun
yang bangunkan dari mimpi
dan mengajakmu berlari?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa tepuk hangat mentari
yang perlahan memeluk
lalu mengajak mengerjap?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa dedaunan jatuh perlahan
menjadi dzikir panjang
yang tak pernah membenci angin?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa memotret rerumput yang basah
dan menikmati bebaunya
lalu tersenyum di ujung jalan?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa menghias kota lama
dengan sepercik asa baru?
Di sana, kau temukan rindumu.

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa senandung gemericik air
yang mengajakmu turut menari
dan mewarnai hari?

Apa arti #pagi bagimu?
Apakah serupa hangat roti bolu
yang disajikan bunda,
pada cawan-cawan penuh cinta?

Read Full Post »

Older Posts »