Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘@tweet_erland’s poem’ Category

Pagi yang sunyi di hari yang sepi…
Degup jantung, dengung lalat juga gumam lirih selokan keruh
Menelan timbunan sampah, tanpa sanggup mengeluh
Langit yang sepi, menyembunyikan matahari
Di kepala kita, mendung menggayuti cemas mimpi-mimpi
Menatap putaran jarum detik arloji
Merenungi kesia-siaan hari
Memeluk gelisah, berkelahi dengan amarah
Hidup, ternyata harus pandai memilah janji
Hidup, hanya untuk mereka yang sudah khatam menjilat ludah sendiri
Ah, ternyata -mungkin- ada yang luput dahulu kita pelajari

Pagi yang sunyi di hari yang sepi…
Terpejam membayangkan kerlip kunang-kunang
Mengenang laron semalam yang selalu kembali ke pijar api, menjemput mati
Menatap sisa purnama yang mengigil tanpa teman
Memaki matahari yang terlalu cepat datang
Seruput kopi yang terasa getir
Dan sepi, perlahan merobek-robek akal pikir

Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa sadar, aku menggumamkan sajak-sajak cinta
Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa suara, aku meneriakkan Indonesia Raya…

Advertisements

Read Full Post »

Kelokan-kelokan sepanjang perjalanan pulang, memaksa menggali-gali kenang.
Tentang berapa banyak nama sahabat yang masih kita ingat

Bunga-bunga terompet yang memagari rumah-rumah kayu, menebarkan aroma yang pernah kita kenali teramat akrab.
Rindu, perlahan sembab..

Kita yang dibesarkan aroma tanah dan humus basah, disihir bising kota, mendadak lupa sejarah.
Tentang pekarangan tempat bermain kelereng dan berlari menarik layangan.

Humut kelapa yang kita sesap bersama.
Juga batang bambu dan kertas basah yang dijadikan peluru.
Menahan takut, kita berlarian sembunyi di bayangan pinus.

Melarikan duka pada pekat asap rokok di temaram lampu disko, kita menangisi riam sungai dan kicauan prenjak di dedahan pohon nangka, yang tak ditemukan di trotoar jalan..
Gelak tawa kemarin, hanyalah bayangan suram yang dipantulkan botol-botol minuman.

Kampung halaman, kawan, adalah pekarangan tanah dan pagar rumah bunga-bunga terompet, tempat rindu senantiasa disiram.

Kampung halaman, kawan, adalah tempat usia yang berderet-deret berbanjar… disemayamkan.

Read Full Post »

Di televisi kita saksikan diri sendiri dipukuli waktu.
Cita-cita hanya pemanis isi buku korespondensi.
Tanpa kesan dan pesan ditorehkan.

Mereka yang diasingkan hari-hari. Debu jalan dan trotoar kerontang.
Ditemani siapa? Tak ada.
Dia bukan berita utama.
Dikalahkan selingkuh selebriti.

Berita yang dibawakan anchor jelita pagi ini, bergema, memantul-mantul di kaca.
Bahkan aroma kopi menampari muka kita yang buruk rupa..

Kita larikan masa depan.
Mengadu pada sinetron tentang bidadari dan seorang jahanam.
Larut tanpa sadar.
Seketika.
Kita : di dalamnya.

Read Full Post »

Ayo telanjang! Buka baju lempar celana!
Hah?! Malu katamu??
Sedang kita tak pernah merasa itu, saat seolah menolak suap yang kita sebut ‘RE JE KI”
Ayo menyelam! Menyelam ke lubuk hati!

Coba renangi sampai ke hulu
Dan lihat kita yang kanak-kanak melompat dari jembatan bambu
Tertawa kita saling sembur
Sampai akhirnya mimpi tenggelam ke dasar batu…

Ayo seberangi sampai ke hilir
Dan lihat kita yang dewasa tak bisa bedakan mana hemat mana kikir
Tersenyum ramah saling berpura
Sampai akhirnya tawa kanak-kanak kita menghilang…
Terseret sampai muara…

Read Full Post »

Surat Dari Beranda

Kupikir ini hanya sebuah keinginan sederhana
Bersamamu nanti menimang cucu
dan kita tergelak di kursi rotan,
di beranda

dan saat iqomah maghrib di pengeras suara
Kita sucikan muka segera
Berdirilah di belakangku
Cukup sehasta

Sesudahnya, biarkan cucu kita memilih kartun kesayangannya.
Kau di sebelahku saja.
Mengelus ubanku di kepala

Itu cukup sederhana kurasa
Aku tak berani bermimpi lebih tinggi lagi
Dekap kepalaku di dadamu
Hingga terkantuk

Dan sebelum mimpi merenggut
Kubisikkan kata yang ku takut tak sempat akan sampai ke fajar
“Temani aku saat ajal menjemput”

Dan di pagi, saat diberi satu hari lagi,
Bangunkan aku dengan cangkir kopi yang biasa
Dengan senyummu mengerak di ampasnya…

Dan kembali di kursi rotan di beranda di suatu senja yang entah.
Kutitipkan semua.
Tentang bahagia tentang duka…

Read Full Post »

Adalah tetes-tetes peluh dari pundak-pundak kukuh
Walau tak kenal keluh
Saat asa akan panen kian luruh
Di bantaran irigasi, hanya ada genangan air mata
…mengeruh

Tahukah kau janji?
Benih yang diharap jadi bulir padi
Tak mampu sekedar tepati separuh saja,
Selalu paceklik bersiap mengintai
….khianati

Di persemaian rindu
Setia di dangau
…termangu
Menanti pupuk dan ladang digaru
Abaikan hama-hama caci
Hei, untuk apa mengerdilkan benih?
Ah, itukah engkau yang berbisik, Dewi Sri?

Di tengah gundah isak sawah
Sudah! luruskan saja alur pematang
Cabuti gulma-gulma dan entah apa yang kotori berkah-Nya
Untuk nanti di ujung senja
Bersama kita basuh kaki, bersuci
…akhiri hari

*untuk semua petani yang (seharusnya) dimuliakan Indonesia Raya*

Read Full Post »

itukah Engkau, Tuhanku?
di deretan religi toko buku
itukah Engkau, Tuhanku?
berdebu di sudut paling gelap hatiku

di antrian loket ibadah
mencariMu aku teriak mendesah
ini rayuku
terhadap jiwa resah
nyatanya dosa tak bisa ditipu

itukah Engkau Tuhanku?
disebut direbut-rebut..
itukah Engkau Tuhanku?
kuteriak “ini cinta!”
sambil tak henti merengut

di senja pengeras suara
berebut sebut diriMu
tersenyumkah Engkau pada cinta kami yang palsu,
pura-pura khusyu?

membatu.
kami mengaku si maha tahu
yakin surga-Mu dari telapak kaki
..tak jauh
nyata-nyata kami
bebal
sungguh..

Read Full Post »

Older Posts »