Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘@sihirhujan’s poem’ Category

aku menjaring bidadari dalam hutan
yang berkelebat di antara pohon bayangan

dia turun dari beranda bianglala
melalui kristal kristal suara
menuju tanah basah
begitu anggun
di antara lipatan lipatan rahasia

wajahnya yang terbuat dari cahaya
bersenandung tentang negeri bernama utophia
orang orang yang dilahirkan
dari debu cinta
lalu hutanpun tersihir senyap
aku yang hampir terjerembab

aku menjaring bidadari dalam hutan perasaan
yang hampir membunuhku
dengan aura bersayap keemasan

Advertisements

Read Full Post »

kita tak pernah paham darimana datangnya awal mula
semesta yang menyusui kita
dengan payudara berbeda
jauh, dari rahim yang begitu jauh

kosmos bercerita tentang pertemuan mesra
kebetulan yang terencana
malu malu, kitapun bermain peran di dalamnya

cinta kita sedang berciuman di kamar itu
sementara di luar kita bercakap tentang cemburu
tentang jalan berbatu
tentang rumah yang akan kita tuju

lalu ketika aku telah menemukan sebungkus takdir
apakah kau harus menggigit leherku
untuk yang terakhir?

Read Full Post »

mengapa seekor rembulan tak boleh menapaki hutan?
bukankah dia telah begitu cemerlang
bertanduk bianglala
bersayap mata perawan

apa dia masih harus terpaku
pada telaga berwarna sejarah itu
tempat moyangnya memandikan perasaan
tempat dimasukkannya kaki tangan ke liang
agar tumbuh bayi bayi kejujuran

disini hanya ada rasa takut yang usang
tentang kitab kematian
yang kini berubah menjadi
sekumpulan ular ular resah
melilit lilit kaki bulan
menggigit separuh dari kehidupan

Read Full Post »

kita adalah nyanyian ghaib
yang menempel pada dinding dinding gua
lalu tebing yang curam
di sekitarnya sepi dan asing terdalam

moyang kita adalah kutub kutub dosa
yang tumbuh meranggas pada lafadz berbeda
jangan kau ucapkan kalimat itu
sekalipun jangan
Tuhan kita tak ingin dibanding bandingkan

lalu kita berhamburam di udara
menjadi kelelawar kelelawar tanpa kepala
menghapus riwayat panjang sendiri
lukisan cinta warna darah
hampir sempurna

Read Full Post »

kita saksikan para remaja bercinta
seperti Sodom dan Gomorhha

dari ribuan malam yang meloncat ke ranjang
orang orang merayakannya
orgasme kemunafikan

kita tak pernah tahu, atau mungkin tak tahu?
dimana bola mata dan kaki kita
yang pernah hilang bertahun lalu
mungkin rayap telah menyimpan dalam perutnya
atau mayat mayat menjadikan bantal tidurnya
kita salib zakar itu di tempat tempat ibadah
di pasar pasar hewan
kita gantung payudara
di sekolah sekolah dasar, di gedung gedung pemerintahan
agar kata kata merajamnya
agar mata mata menikamnya
dan kita tertawa puas menyaksikannya

di rumah sendiri, kita meraung sepi
menatap kosong dinding kamar mandi
zakar sendiri tlah hilang dicuri

Read Full Post »

Sejoli

jam dinding itu jatuh di telapak tangan
lalu hancur, waktupun berkeping keping hancur
masih ada dilema yang tumbuh sebagai alang alang
dalam kepala
dalam rencana rencana yang tak dihuni manusia

(lalu merekapun beranak pinak, seperti kabut)

tubuh dan bayang bayang adalah sejoli
kembali bercakap dalam bahasa sunyi

Read Full Post »

kau menangis dalam cangkir kopi
warnamu lebih merdu dari sembilu
lalu kuteguk habis air matamu

kau merayu dalam asap
menyebar ke lereng senyap
lalu kugulung habis kau dalam dekap

kau menuliskan dirimu sendiri dalam puisi
bait sunyi yang tak juga dipahami
lalu kusalib engkau pada bukit imaji

Read Full Post »

Older Posts »